Karawang l linkbisnis.co.id – Lonjakan kunjungan pasien membuat pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kabupaten Karawang mengalami kepadatan. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah pasien harus menunggu lebih lama karena kapasitas ruang perawatan dan tempat tidur rumah sakit berada pada tingkat keterisian tinggi.
Kondisi tersebut turut dirasakan keluarga pasien anak. Seorang orang tua pasien balita mengaku harus menggendong anaknya yang berusia sekitar dua tahun dalam kondisi masih terpasang infus karena ruang rawat inap yang dibutuhkan belum tersedia.
Situasi ini menggambarkan tekanan terhadap kapasitas pelayanan kesehatan di Karawang, khususnya ketika jumlah pasien yang membutuhkan perawatan meningkat dalam waktu bersamaan.
Berdasarkan pemberitaan sejumlah media lokal pada 24 September 2026, IGD RSUD Karawang dilaporkan mengalami overload dengan dominasi pasien anak yang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kapasitas tempat tidur IGD yang sebelumnya 30 unit telah ditambah menjadi 41 unit, namun kunjungan pasien dilaporkan sempat mencapai 55 orang dalam sehari. Tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) juga dilaporkan berada pada kisaran 90–95 persen.
Kondisi serupa juga terjadi di RSUD Jatisari. Direktur RSUD Jatisari, dr. Hj. Anisah, menyebut seluruh 100 tempat tidur rumah sakit telah terisi, sementara 18 tempat tidur IGD juga berada dalam kondisi penuh pada Kamis (24/9/2026).
Rujukan Pasien Jadi Sorotan
Manajemen RSUD Karawang sebelumnya menyampaikan bahwa kepadatan IGD tidak hanya berkaitan dengan tingginya jumlah pasien, tetapi juga alur rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah praktik yang disebut sebagai “rujuk lepas”, yakni pasien datang ke rumah sakit tanpa adanya koordinasi atau konfirmasi rujukan yang memadai dari fasilitas kesehatan asal.
Kondisi tersebut dinilai dapat menyulitkan rumah sakit dalam mengatur kapasitas tempat tidur, terutama ketika ruang perawatan sedang penuh dan jumlah pasien yang membutuhkan penanganan terus bertambah.
Namun, persoalan alur rujukan tersebut perlu dilihat secara menyeluruh agar tidak hanya membebankan persoalan kepada FKTP maupun rumah sakit. Penguatan sistem rujukan, komunikasi antarfasilitas kesehatan, serta ketersediaan tempat tidur menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran pelayanan pasien.
Aktivis Soroti ISPA dan Faktor Lingkungan
Sementara itu, aktivis yang membidangi kesehatan masyarakat, Rahmad,S., meminta pemerintah daerah meningkatkan pengawasan terhadap faktor lingkungan yang berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat.
Menurut Rahmad, perubahan cuaca dari musim kemarau menuju musim hujan perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti bayi dan balita.
“Pemerintah harus berperan aktif melakukan pengawasan lingkungan, terlebih saat ini terjadi perubahan cuaca yang cukup ekstrem dari musim kemarau menuju musim hujan,” ujar Rahmad, Jumat (25/9/2026).
Ia juga menyoroti kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri. Menurutnya, meningkatnya keluhan ISPA pada anak perlu menjadi perhatian, meskipun penyebabnya tidak dapat langsung disimpulkan hanya dari satu faktor.
“Banyak pasien balita yang mengalami ISPA. Masyarakat yang tinggal dekat kawasan industri juga perlu mendapat perhatian. Selain faktor cuaca, kualitas udara dan kemungkinan paparan polusi harus diawasi secara serius,” katanya.
Rahmad mendorong pemerintah daerah bersama instansi terkait melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala, terutama di wilayah yang berdekatan dengan kawasan industri.
Menurut dia, pengawasan lingkungan juga perlu mencakup potensi pencemaran air dan tanah. Namun, dugaan hubungan antara aktivitas industri dengan penyakit tertentu, menurutnya, tetap membutuhkan pemeriksaan dan data ilmiah yang memadai.
Jangan Sampai Beban Pasien Berujung pada Krisis Pelayanan
Lonjakan pasien dan keterisian ruang rawat yang tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi rumah sakit. Di sisi lain, masyarakat tetap membutuhkan kepastian bahwa pasien dalam kondisi darurat memperoleh penanganan sesuai tingkat kegawatdaruratannya.
RSUD Karawang sendiri menyediakan layanan IGD selama 24 jam dan menerapkan sistem triase untuk menentukan prioritas penanganan berdasarkan kondisi medis pasien.
Karena itu, penguatan sistem rujukan, peningkatan kapasitas pelayanan, pengawasan kesehatan lingkungan, serta edukasi masyarakat mengenai pencegahan ISPA menjadi sejumlah aspek yang perlu berjalan secara bersamaan.
Kondisi IGD yang penuh bukan semata persoalan rumah sakit, melainkan menjadi sinyal perlunya evaluasi menyeluruh terhadap rantai pelayanan kesehatan, mulai dari tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan.(**)

