Singapura l linkbisnis.co.id – Tidak semua orang yang lahir dalam keterbatasan ekonomi akan berakhir dengan keterbatasan pula. Kisah Halimah Yacob menjadi salah satu contoh bagaimana kehidupan yang dimulai dari keluarga sederhana justru dapat mengantarkan seseorang hingga ke puncak pemerintahan.
Halimah bukan lahir dari keluarga berada. Ia tumbuh di kawasan Bugis, Singapura. Ketika usianya baru delapan tahun, sang ayah meninggal dunia. Sejak saat itu, ibunya harus berjuang seorang diri untuk menghidupi keluarga dengan berjualan nasi Padang.
Halimah kecil pun ikut membantu ibunya mencari nafkah. Di tengah kesibukan keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari, pendidikan bukan perkara mudah. Keluarganya bahkan pernah menghadapi kesulitan untuk membayar biaya sekolah.
Namun, keterbatasan ekonomi tidak mematikan cita-citanya.
Dengan dukungan beasiswa dari MUIS, Halimah dapat melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Singapura. Ia menyelesaikan pendidikannya pada 1978.
Setelah lulus, perjalanan kariernya berkembang. Halimah kemudian bergabung dengan National Trades Union Congress (NTUC) dan menghabiskan puluhan tahun dalam dunia ketenagakerjaan dan organisasi pekerja.
Langkahnya ke dunia politik dimulai pada 2001 ketika ia terpilih menjadi anggota parlemen Singapura.
Karier politiknya terus berkembang hingga akhirnya, pada 2017, Halimah Yacob dilantik sebagai Presiden Singapura ke-8.
Perjalanan itu membuat kisah hidupnya lebih dari sekadar cerita tentang seorang kepala negara.
Ia adalah perjalanan seorang anak yang pernah membantu ibunya berjualan nasi Padang, tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi, kemudian menempuh pendidikan tinggi, berkarier, masuk parlemen, hingga akhirnya berdiri di Istana sebagai Presiden Singapura.
Dari dapur sederhana, menuju panggung kenegaraan.
Kisah Halimah mengingatkan bahwa kondisi ekonomi sebuah keluarga tidak selalu menentukan masa depan seorang anak.
Anak yang hari ini membantu orang tuanya berjualan, bekerja sepulang sekolah, atau tumbuh dalam keterbatasan, tidak berarti akan selamanya berada dalam keadaan yang sama.
Sebab masa depan tidak selalu ditentukan oleh dari mana seseorang memulai.
Terkadang, justru dari keterbatasan itulah lahir ketekunan, pendidikan, dan keberanian untuk mengubah kehidupan.
Karena anak yang hari ini membantu orang tuanya mencari nafkah, bisa saja suatu hari nanti berdiri di depan sebuah bangsa.
Sumber: X@indepeensumatra

