Ia hanya sedang tidur. Ia pasti akan bangun.
Tuhan akan mengirimkan tanda bahwa Nene Baine masih hidup.
Aku hanya harus menunggu.
Semuanya akan baik-baik saja.
“Makarre pagi, Carrade,” suara Ammak terdengar dari kamar sebelah. “Kumande mokom.”
Ibu mengajakku sarapan.
Tubuhku terasa berat, seolah-olah menempel pada kasur. Aku tidak ingat sejak kapan aku tertidur. Mungkin sejak semalam, setelah berjam-jam berdoa.
Rumah yang biasanya dipenuhi tawa kini terasa berbeda. Langkah kakiku ketika menyentuh lantai terasa kaku. Kehangatan yang biasanya memenuhi rumah seperti menghilang begitu saja.
Apakah semuanya ikut hilang ketika Nene Baine meninggal?
Tidak.
Nene Baine masih hidup.
Aku hanya harus menunggu.
“Pagi, Ammak.”
Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Tenggorokanku terasa seperti tersumbat batu setiap kali mencoba berbicara.
Ammak menatapku tanpa banyak bicara. Wajahnya terlihat lelah, tetapi aku tidak mengerti mengapa.
Mengapa tidak ada seorang pun yang merasakan apa yang kurasakan?
Mungkin karena Nene Baine memang masih hidup.
Mungkin aku saja yang terlalu cemas.
Ammak meletakkan sepiring pa’piong di hadapanku. Aku mencoba menyuapkannya ke mulut, tetapi makanan itu terasa menggumpal di tenggorokan. Rasanya tidak seperti biasanya. Tidak ada selera makan. Yang ada hanya pikiran tentang Nene Baine.
Aku ingin percaya.
Aku harus percaya.
Setelah sarapan, aku segera keluar membantu Ayah bekerja di sawah yang tidak jauh dari rumah
“Pagi, Nak!” teriak Ayah dari ujung sawah.
Aku berlari menghampirinya.
Tanganku membantu mengangkat ember berisi air yang terasa terlalu berat untuk lenganku yang kurus. Awalnya aku merasa senang bisa membantu Ayah. Namun, perlahan tubuhku mulai lelah
Aku duduk beristirahat di tepi sawah.
“Yah?”
“Hm?”
“Kapan Nene Baine pulang?”
Ayah terdiam.
Tatapannya kosong beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,
“Nak... Nenek sudah meninggal setahun yang lalu.”
Dunia seakan berhenti.
Aku menatap Ayah. Aku tidak mengerti.
Aku tidak mau mengerti.
Suara Ayah seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Telingaku berdenging. Dadaku terasa sesak.
Tidak.
Ayah pasti salah.
Aku segera bangkit dan berlari pulang. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Begitu sampai di rumah, aku mencari Ammak.
“Ammak!
Aku memeluknya erat dengan tubuh gemetar.
“Hu... hik... Ammak... kata Ayah... Nene Baine sudah meninggal dunia...”
Tangisku pecah.
Ammak hanya mengelus kepalaku dengan lembut.
“Hapus air matamu, Nak,” katanya perlahan. “Nene Baine hanya pergi ke tempat yang jauh. Ia pergi untuk mencari uang. Jangan khawatir. Nanti ia akan pulang.”
Aku mengangkat wajah.
“Benarkah?”
Ammak tersenyum.
“Benar. Ia akan pulang.”
Aku menggenggam kata-kata itu seperti seseorang yang sedang berpegangan pada satu-satunya benda yang dapat menyelamatkannya dari tenggelam.
Nene Baine akan pulang.
Aku hanya perlu menunggu.
Malam datang.
Aku turun dari kamar untuk makan malam meskipun sama sekali tidak berselera.
Aku duduk di meja makan tanpa banyak bicara.
Ammak duduk di hadapanku.
Ayah belum pulang.
Pikiranku terus kembali kepada perkataan Ayah di sawah.
Nenek sudah meninggal setahun yang lalu.
Namun, suara Ammak perlahan menghapus kalimat itu.
“Nak, makanlah. Besok kamu harus punya tenaga untuk melihat Nenekmu.”
Aku terdiam.
Melihat Nenek?
Berarti Nene Baine benar-benar akan pulang besok!
Hatiku kembali dipenuhi harapan.
Aku berdoa sebelum makan
“Terima kasih, Tuhan. Besok Nene Baine akan pulang.”
Untuk pertama kalinya hari itu, aku tersenyum.
Aku makan dengan lahap. Besok Ayah pasti akan percaya kepadaku.
Sesudah makan, aku kembali ke kamar.
Aku berdoa berjam-jam.
Aku berterima kasih kepada Tuhan karena telah mendengar doaku.
Nene Baine akan pulang.
Aku terus mengulang kalimat itu dalam hati.
Sampai kemudian, dari lantai bawah, terdengar suara Ayah.
“Kenapa kau masih mengatakan bahwa dia masih hidup?”
Suara Ayah terdengar keras.
Aku terdiam.
“Lihatlah sekarang! Dia masih saja berharap besok Nenek pulang! Sampai kapan dia harus seperti ini?
Dia harus mengerti bahwa Nenek sudah bersama Tuhan di surga!”
Ammak menjawab dengan suara bergetar.
“Dia masih anak-anak. Jangan paksa dia menerima semuanya sekaligus. Aku takut dia depresi.
Bagaimana mungkin seorang anak bisa menerima kehilangan sebesar itu dengan mudah?”
Aku menutup telinga.
Tidak.
Aku tidak ingin mendengar.
Aku tetap berdoa.
Mungkin Ayah hanya marah.
Mungkin Ayah hanya bercanda.
Nene Baine masih hidup.
Ia akan pulang.
Aku terus berdoa seolah-olah doa dapat menutup semua suara yang ingin menghancurkan keyakinanku.
Namun, suara percakapan itu semakin jelas.
Kemudian…
Semuanya berubah.
Aku mendengar suara orang-orang.
Banyak orang.
Mereka berbicara dengan suara pelan. Ada yang berdoa. Ada yang menangis.
Anehnya, di antara suara-suara itu, aku juga mendengar tawa.
Aku membuka mata.
Dunia di sekelilingku perlahan berubah menjadi warna kuning dan oranye.
Warna kebahagiaan.
Anak-anak seusiaku berlarian sambil membawa potongan kain warna-warni.
Aku berjalan mengikuti mereka.
Langkah demi langkah.
Kami menuju sebuah liang kubur.
Di sana, aku melihat sebuah peti sedang diangkat.
Aku mencari wajah Ammak dan Ayah.
Mereka ada di sana.
Mereka tersenyum.
Di tangan mereka terdapat sebuah gaun milik Nene Baine.
Gaun itu berwarna merah cerah, meskipun sebagian permukaannya telah tertutup debu.
Aku memandang peti itu.
Lalu peti tersebut dibuka.
Aku melihat sebuah tubuh.
Tangan-tangan keluargaku menyentuhnya dengan lembut.
Aku menggeleng.
Itu bukan dia.
Wajah itu bukan wajah Nene Baine.
Senyum itu bukan senyumnya.
Aku ingin berteriak.
Namun suaraku tidak keluar.
Gaun merah itu kemudian dikenakan pada tubuh tersebut. Mereka menariknya perlahan ke atas, menutupi tubuh yang pucat itu.
Tiba-tiba orang-orang tertawa.
Mereka berbicara kepada tubuh itu seolah-olah ia masih hidup.
Aku tidak mengerti.
Mengapa mereka tertawa?
Mengapa mereka berbicara kepada orang yang sudah tidak bisa menjawab?
Air mata mulai menggenang di mataku.
Satu tetes.
Lalu dua.
Kemudian semakin banyak.
Aku tidak sanggup lagi.
Aku berbalik.
Kakiku berlari sekuat tenaga ke arah yang berlawanan.
Angin menerpa wajahku dan mengeringkan air mata yang terus mengalir.
Mulutku terbuka.
Aku masih berdoa.
Masih bertanya.
Seperti yang selalu kulakukan.
“Tuhan... kalau Nene Baine memang sudah pergi, mengapa aku masih menunggunya?”
Aku terus berlari.
Sampai akhirnya aku berhenti dan menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya jalan panjang.
Hanya angin.
Dan suara hatiku sendiri.
“Nene Baine... pulanglah.”
Karena bagi seorang anak yang belum siap kehilangan, kematian bukanlah perpisahan.
Kematian hanyalah sebuah pintu yang belum ia mengerti.
Dan di balik pintu itu, ia masih berharap…
orang yang dicintainya akan kembali.
Saya juga memperkuat bagian akhir agar judul “Nene Baine, Pulanglah” menjadi inti emosional cerita: bukan sekadar tentang kematian seorang nenek, tetapi tentang proses seorang anak menghadapi kehilangan, penyangkalan, harapan, dan akhirnya mulai memahami arti perpisahan.


